Seorang
wali boleh membaca khutbah sebelum mengucapkan sighat ijab, bahkan hukumnya
sunnah. Namun demikian, jika dalam majlis akad telah dibacakan khutbah yang
masyhur dari Nabi saw, maka wali lebih baik tidak membaca khutbah.
Dalam Fathul Mu'in, hal: 99 :
“Sunnah membaca khutbah bagi wali untuk akad nikah, sebelum mengucapkan ijabnya, maka tidak lagi disunnahkan khutbah-khutbah lain sebelum qabulnya. Sebagaimana yang dibenarkan dalam Al-Minhaj”.
Dalam Bughiyatul Mustarsyidin, hal: 200:
“Apa yang dilakukan sebagian para aqid nikah menambah khutbah pendek setelah khutbah yang masyhur datang dari Nabi saw, dengan lafad; Alhamdulillahi wasshalatu wasslamu ‘ala Rasulillahi....dst. lalu dilaksanakan akad, itu tidak ada dasarnya di dalam Sunnah Nabi, dan tidak ada riwayat dari salah seorang para masyaayikh, seperti Imam Ibnu Hajar dan Imam Muhammad Romli. Dan sekalipun Imam Al-Ghazaliy menyebutkan dalam Al-Ikhya’; bahkan khutbah tersebut termasuk mengingkari yang utama (khilaful awla) karena tiada faidah terjadinya terulang-ulang dua khutbah secara bersama”.
Dalam Fathul Mu’in, hal: 98:
“Bahkan
disunahkan meninggalkan khutbah karena keluar dari perselisihan pendapat ulama
yang membatalkan akad sebab karenanya, sebagaimana dijelaskan syaikhuna dan
syaikhuhu, Zakariya rahimahumullah,”.
Dalam Fathul Mu'in, hal: 99 :
(و) يسن (
خطبة ) بضم الخاء من الولي ( له ) اي النكاح الذي هو العقد بان تكون قبل ايجابه,
فلا تندب أخرى من الخاطب قبل قبوله كماصححه في المنهاج
“Sunnah membaca khutbah bagi wali untuk akad nikah, sebelum mengucapkan ijabnya, maka tidak lagi disunnahkan khutbah-khutbah lain sebelum qabulnya. Sebagaimana yang dibenarkan dalam Al-Minhaj”.
Dalam Bughiyatul Mustarsyidin, hal: 200:
ما
يفعله بعض العاقدين للنكاح من زيادة خطبة مختصرة بعد خطبته المشهورة الواردة عنه
صلى الله عليه وسلم بقوله الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله ...إلخ ثم يعقد لا أصل له في السنة ولايروى عن أحد من
المشايخ كابن حجر وم ر وإن ذكرها في الإحياء بل هي خلاف الأولى إذ لافائدة لتكرير
خطبتين معا
“Apa yang dilakukan sebagian para aqid nikah menambah khutbah pendek setelah khutbah yang masyhur datang dari Nabi saw, dengan lafad; Alhamdulillahi wasshalatu wasslamu ‘ala Rasulillahi....dst. lalu dilaksanakan akad, itu tidak ada dasarnya di dalam Sunnah Nabi, dan tidak ada riwayat dari salah seorang para masyaayikh, seperti Imam Ibnu Hajar dan Imam Muhammad Romli. Dan sekalipun Imam Al-Ghazaliy menyebutkan dalam Al-Ikhya’; bahkan khutbah tersebut termasuk mengingkari yang utama (khilaful awla) karena tiada faidah terjadinya terulang-ulang dua khutbah secara bersama”.
Dalam Fathul Mu’in, hal: 98:
بل
يستحب تركها خروجا من خلاف من أبطل بها كماصرح به شيخنا وشيخه زكريا رحمهما الله
Tidak ada komentar:
Posting Komentar