Minggu, 18 Agustus 2013

29. Ada mempelai putra meninggal dunia seketika setelah melakukan akad nikah, apakah isterinya berhak memperoleh maharnya?

Wanita yang ditinggal mati oleh suaminnya sebelum disetubuhi. Seperti kasus di atas, setelah usai pelaksanaan akad nikah, seketika suami meninggal dunia, itu artinya suami-isteri belum pernah melakukan hubungan intim. Maka isteri tetap berhak memperoleh maharnya sebesar setengah dari jumlah mahar, sekalipun suami telah meninggal. Dan mahar harus ditunaikan diambilkan dari harta peninggalannya, karena hal itu termasuk hutang. Misal, maharnya Rp. 1000.000,- maka isteri berhak setengahnya yaitu, Rp. 500.000,-

Dalam Kifayatul Akhyar, juz; 2,  hal: 65):

 ( ويسقط بالطلاق قبل الدخول نصف المهر ) اعلم أن المرأة تملك الصداق بالعقد الصحيح أوبالفرض لأنه عقد يملك به العوض وهو الإنتفاع بالبضع وتوابعه فتملك به العوض كاالبيع

"Dan gugur setengah mahar dengan sebab talak sebelum setubuh. Ketahuilah sesungguhnya, isteri itu berhak memiliki mahar dengan sebab akad yang sahih, atau ketentuan mahar, karena akad nikah itu adalah akad yang dengan mahar itu suami berhak mendapat iwadl (ganti) yaitu; memanfaatkan kemaluan isterinya dsb, maka isteri dengan dimanfaatkan kemaluannya  oleh suami berhak pula mendapatkan iwadl (ganti, berupa mahar) sebagaimana jual-beli”(Kifayatul Akhyar, juz; 2,  hal: 65). 

Dalam Kifayatul Akhyar, juz; 2,  hal: 65:

يستقر بموت أحد الزوجين ولو قبل الدخول لأن بالموت انتهى العقد فكان كاستيفاء المعقود عليه كالإجارة

"Mahar itu menjadi memiliki kekuatan tetap dengan sebab meninggal salah satu pasangan suami-isteri, sekalipun belum pernah setubuh. Karena dengan meninggal dunia, maka usailah akad tersebut. Seperti  dalam sewa, menyerahkan barang sewaannya” (Kifayatul Akhyar, juz; 2,  hal: 65).

Dalam Bughiyatul Mustarsyidin, hal: 214:

من الديون المتعلقة بالذمة ما يلزم الزوج مما يعتدونه من الجهاز فتستحقه الزوجة كالمهر وتستوفيه من التركة كسائر الديون

"Termasuk hutang yang berkaitan dengan tanggungan adalah apa saja yang menjadi kewajiban suami, hal ini termasuk perabot rumah yang telah menjadi adat harus dibawa oleh suami, maka isteri berhak memperolehnya, seperti halnya mahar. Dan ia mengambilnya dari harta peninggalannya, seperti hutang-hutang lain” (Bughiyatul Mustarsyidin, hal: 214).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar