Hukum menyebutkan maskawin dalam akad
nikah adalah sunnah dan makruh meninggalkannya. Jika dalam akad tidak
menyebutkan maskawin, maka maskawinnya menggunakan mahar mitsil.
Hukum
menyebutkan mahar dalam akad pada dasarnya adalah sunnah, tetapi dengan alasan
tertentu hukum tersebut dapat berubah menjadi wajib dan dosa tidak menyebutnya.
Misalnya, apabila mempelai wanita tergolong wanita ghairu jaizatit tasharruf (tidak dapat membelanjakan hartanya) kemudian
terjadi sepakat dengan pihak mempelai putra bahwa maharnya adalah melebihi
mahar mitsil.
Misal yang lain, apabila mempelai pria tergolong orang yang tidak boleh membelanjakan harta (mahjur alaih) dinikahkan dengan wanita yang tidak rela kecuali dengan mahar yang lebih banyak dari mahar mitsil, maka wajib menyebutkannya dan haram tidak menyebutkannya.
Dalam Fathul Mu’in, hal: 100:
“Sah akad nikah yang tidak menyebutkan maskawin, tetapi disunnahkan menyebutkan maskawin dalam akad nikah dan makruh meninggalkannya”( Fathul Mu’in, hal: 100).
Dalam Al Iqna’, juz: 2, hal: 135:
“Terkadang wajib hukumnya menyebutkan mahar dalam akad seperti dalam beberapa gambaran ini. Pertama, jika mempelai wanita tergolong ghairu jaizatit tasharruf (tidak boleh membelanjakan hartanya) atau budak wanita milik ghairu jaizit tasharruf (orang yang tidak boleh membelanjakan hartanya). Kedua, jika mempelai wanita tergolong jaizatit tasharruf dan mengijinkan walinya untuk dinikahkan dengan mahar, lalu walinya atau wakil walinya menikahkan. Ketiga, jika mempelai pria tergolong ghairu jaizit tasharruf dan terjadi sepakat maharnya kurang dari mahar mitsil isteri. Dan pada yang lainnya - pertama dan kedua- terjadi sepakat mahar lebih dari mahar mitsil, maka menjadi wajib menyebutkan maharnya sesuai dengan yang telah disepakati dan tidak boleh mengosongkan akad darinya. Dan jika akad ditiadakan dari menyebutkan mahar, dan wanita itu bukan mufawwidlah (menyerahkan diri tanpa mahar), maka dengan dilangsungkannya akad wanita tersebut berhak mendapat mahar mitsil” (Al Iqna’, juz: 2, hal: 135).
Dalam Nihayatuz Zain, hal: 310:
“Maka wajib menyebutkan mahar dalam hal itu, dengan mahar yang telah disepakati, dan tidak boleh meninggalkannya. Maka jika tidak disebutkan hukumnya dosa dan sah akadnya dengan mahar mitsil. Dan kadang haram tidak menyebutkan mahar, seperti jika wali menikahkan pria mahjur alaih (orang yang tidak boleh membelanjakan harta) dengan wanita yang tidak rela kecuali dengan mahar yang lebih banyak dari mahar mitsilnya, lalu walinya diam menerima” (Nihayatuz Zain, hal: 310).
Misal yang lain, apabila mempelai pria tergolong orang yang tidak boleh membelanjakan harta (mahjur alaih) dinikahkan dengan wanita yang tidak rela kecuali dengan mahar yang lebih banyak dari mahar mitsil, maka wajib menyebutkannya dan haram tidak menyebutkannya.
Dalam Fathul Mu’in, hal: 100:
وينعقد
النكاح بلاذكرمهر في العقد بل يسن ذكره فيه وكره اخلأه عنه
“Sah akad nikah yang tidak menyebutkan maskawin, tetapi disunnahkan menyebutkan maskawin dalam akad nikah dan makruh meninggalkannya”( Fathul Mu’in, hal: 100).
Dalam Al Iqna’, juz: 2, hal: 135:
وقد
تجب التسمية في صور, الأولى إذاكانت الزوجة غيرجائزة التصرف أومملوكة
لغيرجائزالتصرف, الثانية إذاكانت جائزة التصرف وأذنت لوليها ان يزوجها ولم تفوض
فزوجها هو أووكيله, الثالثة إذاكان الزوج غيرجائز التصرف وحصل الإتفاق في هذه
الصورة على أقل من مهرمثل الزوجة, وفيماعداها على أكثر منه فتتعين تسميته بما وقع
الإتفاق عليه ولا يجوز إخلاؤه منه وإذاخلا العقد عن التسمية فإن لم تكن مفوضة
استحقت مهر المثل بالعقد
“Terkadang wajib hukumnya menyebutkan mahar dalam akad seperti dalam beberapa gambaran ini. Pertama, jika mempelai wanita tergolong ghairu jaizatit tasharruf (tidak boleh membelanjakan hartanya) atau budak wanita milik ghairu jaizit tasharruf (orang yang tidak boleh membelanjakan hartanya). Kedua, jika mempelai wanita tergolong jaizatit tasharruf dan mengijinkan walinya untuk dinikahkan dengan mahar, lalu walinya atau wakil walinya menikahkan. Ketiga, jika mempelai pria tergolong ghairu jaizit tasharruf dan terjadi sepakat maharnya kurang dari mahar mitsil isteri. Dan pada yang lainnya - pertama dan kedua- terjadi sepakat mahar lebih dari mahar mitsil, maka menjadi wajib menyebutkan maharnya sesuai dengan yang telah disepakati dan tidak boleh mengosongkan akad darinya. Dan jika akad ditiadakan dari menyebutkan mahar, dan wanita itu bukan mufawwidlah (menyerahkan diri tanpa mahar), maka dengan dilangsungkannya akad wanita tersebut berhak mendapat mahar mitsil” (Al Iqna’, juz: 2, hal: 135).
Dalam Nihayatuz Zain, hal: 310:
فتتعين
التسمية في ذلك بماوقع الإتفاق عليه ولايجوز إخلاؤه منه فلو لم يسم أثم وصح العقد
بمهر المثل وقد يحرم كمالوزوج محجوراعليه بمن لم ترض إلا بأكثر من مهر مثلها فيقبل
الولي ساكتا
“Maka wajib menyebutkan mahar dalam hal itu, dengan mahar yang telah disepakati, dan tidak boleh meninggalkannya. Maka jika tidak disebutkan hukumnya dosa dan sah akadnya dengan mahar mitsil. Dan kadang haram tidak menyebutkan mahar, seperti jika wali menikahkan pria mahjur alaih (orang yang tidak boleh membelanjakan harta) dengan wanita yang tidak rela kecuali dengan mahar yang lebih banyak dari mahar mitsilnya, lalu walinya diam menerima” (Nihayatuz Zain, hal: 310).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar